Thursday, September 17, 2026

Saya Coba Menabung Rp1 Juta di Bank Digital, Berapa Bunga yang Didapat?

 Saya penasaran, sebenarnya Rp1 juta yang hanya disimpan di bank digital bisa menghasilkan berapa rupiah? Saya coba hitung dengan beberapa pilihan bunga yang sedang ditawarkan, dan ternyata hasilnya tidak sebesar yang saya bayangkan.



Saya mulai dari Rp1 juta

Kalau mendengar bank digital menawarkan bunga 3%, 3,25%, bahkan 6% per tahun, saya sempat berpikir:

“Kalau saya punya Rp1 juta, berarti dapat berapa?”

Pertanyaannya sederhana.

Tapi setelah saya hitung, ternyata ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Karena bunga 6% per tahun bukan berarti Rp1 juta langsung menghasilkan Rp60 ribu setiap bulan.

Angka 6% tersebut adalah per tahun (p.a.).

Jadi, kalau uang Rp1 juta disimpan selama satu tahun penuh dan suku bunganya tetap, perhitungannya kira-kira:

Rp1.000.000 × 6% = Rp60.000 per tahun.

Lumayan?

Bisa iya.

Tetapi saya juga perlu melihat berapa bunga setelah pajak, apakah bunganya benar-benar berlaku untuk seluruh saldo, dan apakah uang tersebut bisa saya tarik kapan saja.

Dari sinilah saya mulai membandingkan beberapa bank digital.

1. Krom Bank — Rp1 Juta Bisa Menghasilkan Berapa?

Salah satu yang langsung menarik perhatian saya adalah Krom Bank.

Saat saya cek informasi resminya, Krom mencantumkan bunga 6% p.a. untuk Tabungan Utama, sedangkan Kantong Tabungan dapat memberikan bunga hingga 6,25% p.a. dalam mode tertentu. Untuk deposito, Krom mencantumkan bunga hingga 8% p.a.

Kalau saya hanya menghitung contoh Rp1 juta dengan bunga 6% p.a., hasil sederhananya:

Rp1.000.000 × 6% = Rp60.000 per tahun.

Kalau dibagi rata 12 bulan:

sekitar Rp5.000 per bulan.

Tentu ini hanya simulasi sederhana. Perhitungan bunga bank dapat menggunakan saldo harian dan ketentuan produk masing-masing.

Krom sendiri menjelaskan bahwa bunga tabungan dihitung berdasarkan saldo akhir hari sebelumnya dan diakumulasikan untuk dibayarkan setiap tanggal tertentu.

Bagaimana kalau bunganya 6,25%?

Rp1.000.000 × 6,25% = Rp62.500 per tahun.

Kalau dibagi rata:

sekitar Rp5.208 per bulan.

Jadi ternyata selisih antara bunga 6% dan 6,25% untuk saldo Rp1 juta tidak terlalu besar.

Ini yang menurut saya menarik.

Semakin kecil saldo, semakin kecil pula nominal rupiah yang dihasilkan dari selisih bunga.

Ada referral Krom juga, Kode referral : MELV5EMI

Nah, kalau memang baru mau mencoba Krom, ada hal lain yang bisa diperhatikan yaitu program Ajak Teman.

Informasi resmi Krom menyebutkan bahwa pengguna baru yang menggunakan kode referral dan memenuhi syarat tertentu bisa memperoleh bonus hingga Rp150.000, sementara pengajak juga dapat memperoleh bonus hingga Rp150.000 per teman yang memenuhi ketentuan.

Syarat yang tercantum antara lain pengisian saldo minimum Rp300.000 untuk bonus Rp50.000 atau Rp2 juta untuk bonus Rp150.000, kemudian saldo perlu dipertahankan sesuai ketentuan program.

2. SeaBank — Kalau Rp1 Juta Disimpan, Dapat Berapa?

Pilihan berikutnya adalah SeaBank.

Di halaman produk tabungan resminya, SeaBank saat ini mencantumkan bunga tabungan 3,5% p.a. dan menyebut bunga dihitung serta dibayarkan setiap hari. SeaBank juga menyatakan tidak ada saldo minimum dan dana dapat ditarik kapan saja.

Sekarang kita hitung sederhana.

Rp1.000.000 × 3,5%

= Rp35.000 per tahun.

Kalau sekadar dibagi 12 bulan:

sekitar Rp2.917 per bulan.

Jadi kalau saya menyimpan Rp1 juta selama satu tahun dengan asumsi bunga tetap 3,5%, nominal bunganya sekitar Rp35 ribu secara bruto.

Ini memang lebih kecil daripada simulasi bunga 6%.

Tetapi kembali lagi:

Saya tidak hanya melihat angka bunganya.

Kalau uang tersebut adalah uang yang mungkin saya gunakan sewaktu-waktu, fleksibilitas juga menjadi pertimbangan.

Bagaimana dengan referral SeaBank?

Kalau SeaBank sedang memiliki program referral/promo yang aktif, bagian referral sebaiknya dicantumkan sesuai syarat dan periode promo yang sedang berlaku.

Kode Referral Sea Bank : L3UUB5

3. Bank Jago — Bunganya Bukan yang Saya Lihat Pertama

Kemudian saya mencoba melihat Bank Jago.

Yang menarik dari Jago menurut saya bukan hanya soal bunga, tetapi cara uang bisa dipisahkan berdasarkan tujuan melalui Kantong.

Informasi resmi Jago mencantumkan Kantong Nabung dengan bunga 3,25% p.a. dan dana dapat ditarik kapan saja. Jago juga menyediakan fitur target dan autosave.

Kalau saya masukkan Rp1 juta:

Rp1.000.000 × 3,25% = Rp32.500 per tahun.

Atau sekitar:

Rp2.708 per bulan jika sekadar dibagi rata.

Tapi justru di sini saya merasa ada pelajaran menarik.

Misalnya saya punya Rp1 juta.

Daripada semuanya bercampur di rekening utama, saya bisa membaginya:

Rp500.000 → Dana Darurat

Rp300.000 → Liburan

Rp200.000 → Kebutuhan lain

Nominalnya tetap Rp1 juta.

Tetapi secara pengelolaan, saya menjadi lebih tahu uang tersebut sebenarnya untuk apa.

Ada referral Bank Jago juga

Untuk pembaca yang tertarik mencoba Jago, saya juga bisa menyisipkan kode referral pribadi:

Kode Referral Bank Jago: MEL1F18E


4. Bank Saqu — Rp1 Juta Ditaruh di Saku Nabung

Pilihan berikutnya adalah Bank Saqu.

Bank Saqu memiliki fitur Saku Nabung, yang menurut informasi resminya memberikan bunga 3% p.a., tanpa minimum dana, dan dana dapat dipindahkan kapan saja. Pengguna juga dapat membuat hingga 20 saku untuk berbagai kebutuhan.

Kalau saya masukkan Rp1 juta:

Rp1.000.000 × 3% = Rp30.000 per tahun.

Atau sekitar:

Rp2.500 per bulan.

Sekali lagi, angka tersebut merupakan simulasi sederhana berdasarkan bunga tahunan dan belum memasukkan perubahan rate atau mekanisme perhitungan harian produk.

Yang menarik buat saya justru konsepnya.

Saya bisa membuat:

Saku Dana Darurat
Saku Liburan
Saku Belanja
Saku Pendidikan

Bahkan Bank Saqu menyediakan fitur target dan nabung terjadwal untuk membantu mencapai target tertentu.

Jadi, Rp1 Juta Menghasilkan Berapa?

Saya coba sederhanakan dalam tabel.

Bank/ProdukContoh bunga p.a.Simulasi bunga Rp1 juta/tahun*
Krom Tabungan6%± Rp60.000
Krom Kantong tertentu6,25%± Rp62.500
SeaBank Tabungan3,5%± Rp35.000
Bank Jago Kantong Nabung3,25%± Rp32.500
Bank Saqu Saku Nabung3%± Rp30.000

*Simulasi sederhana dengan asumsi Rp1 juta tetap tersimpan selama satu tahun dan suku bunga tidak berubah. Belum memperhitungkan mekanisme perhitungan bunga masing-masing produk dan pajak yang berlaku.

Dari tabel ini saya mulai melihat sesuatu.

Selisih bunganya ternyata tidak terlalu terasa kalau uang yang disimpan baru Rp1 juta.

Misalnya antara bunga 3% dan 6%.

Selisihnya:

3% × Rp1 juta = Rp30.000 per tahun.

Artinya, mengejar selisih bunga 3% pada saldo Rp1 juta hanya menghasilkan selisih sekitar Rp30 ribu setahun, dengan asumsi rate tetap.

Tapi Ada Satu Hal Penting: Pajak Bunga

Ini bagian yang menurut saya sering terlupakan ketika kita melihat iklan:

“Bunga 6% p.a.”

Angka tersebut adalah bunga bruto, bukan otomatis uang bersih yang masuk ke rekening.

Menurut Direktorat Jenderal Pajak, bunga deposito dan tabungan pada prinsipnya dikenakan PPh final 20% dari jumlah bruto, dengan pengecualian tertentu, termasuk apabila jumlah deposito/tabungan dan SBI tidak melebihi Rp7,5 juta dan bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah.

Jadi, untuk ilustrasi sederhana, apabila bunga Rp1 juta pada produk tertentu terkena PPh 20%:

Bunga bruto Rp60.000

dikurangi

Pajak Rp12.000

maka:

Bunga bersih sekitar Rp48.000.

Tetapi untuk saldo Rp1 juta yang memenuhi ketentuan pengecualian pajak tersebut, perlakuannya dapat berbeda.

Jadi saya tidak akan mengatakan:

“Bunga 6% berarti pasti dapat Rp48 ribu.”

Karena pajak dan mekanisme produk perlu dilihat berdasarkan kondisi sebenarnya.

Kalau Begitu, Lebih Baik Mana?

Nah, ini pertanyaan yang awalnya juga ada di kepala saya.

Tapi setelah saya hitung, saya justru mengubah pertanyaannya.

Bukan:

“Bank mana yang bunganya paling tinggi?”

Melainkan:

“Uang Rp1 juta ini akan saya gunakan untuk apa?”

Kalau uang tersebut merupakan uang yang sering digunakan, saya lebih memperhatikan akses dan kemudahan transaksi.

Kalau uang tersebut merupakan tabungan berdasarkan target, fitur seperti Kantong atau Saku menjadi menarik.

Kalau uang tersebut memang belum akan digunakan dan saya ingin memperoleh bunga lebih tinggi, saya bisa mempertimbangkan deposito.

Jadi bunga memang penting.

Tetapi bukan satu-satunya faktor.

Saya Juga Mulai Berpikir: Bagaimana Kalau Rp1 Juta Ditambah Terus?

Ini justru bagian yang menurut saya paling menarik.

Misalnya saya tidak hanya menaruh Rp1 juta lalu membiarkannya.

Saya mulai dengan:

Rp1.000.000

Kemudian setiap bulan saya tambahkan:

Rp500.000

Setelah satu tahun, setoran pokok saya sudah menjadi:

Rp7.000.000

Nah, pada titik ini bunga mulai terasa lebih menarik karena saldo yang menghasilkan bunga juga semakin besar.

Jadi sebenarnya:

Bukan hanya soal mencari bank dengan bunga tinggi.

Tetapi juga tentang:

berapa banyak uang yang berhasil kita simpan secara konsisten.

Bunga adalah tambahan.

Kebiasaan menabung tetap menjadi bagian yang paling menentukan pertumbuhan saldo.

Ada Satu Hal Lagi yang Jangan Dilupakan: LPS

Saya pribadi tidak ingin hanya melihat tulisan “bunga tinggi” ketika memilih tempat menyimpan uang.

Saya juga ingin tahu bagaimana dengan penjaminan simpanannya.

Khusus untuk bank peserta LPS, ada ketentuan mengenai batas nominal dan tingkat bunga penjaminan. Karena tingkat bunga penjaminan dapat berubah, pembaca sebaiknya mengecek ketentuan LPS yang berlaku pada saat membuka rekening atau deposito.

Untuk Krom sendiri, misalnya, bank menyatakan berizin dan diawasi OJK dan BI serta merupakan peserta penjaminan LPS. Krom juga menyebutkan bahwa LPS menjamin simpanan hingga batas yang berlaku, sementara simpanan dengan bunga di atas tingkat bunga penjaminan LPS tidak dijamin.

Jadi sebelum tergoda angka bunga tinggi, saya akan melihat:

Bunganya berapa?

Tenornya berapa lama?

Bisa ditarik kapan saja?

Ada pajaknya?

Ada biaya?

Dan bagaimana ketentuan penjaminannya?

Kesimpulan: Ternyata Rp1 Juta Tidak Akan Langsung Jadi Banyak

Setelah saya coba hitung, ternyata menyimpan Rp1 juta di bank digital tidak akan membuat saya mendapatkan ratusan ribu rupiah dalam waktu singkat.

Dengan bunga sekitar 3–6% per tahun, secara sederhana bunga dari Rp1 juta berada di kisaran Rp30 ribu–Rp60 ribu per tahun sebelum memperhitungkan pajak dan perubahan suku bunga.

Awalnya mungkin terlihat kecil.

Tapi menurut saya justru di situlah pelajarannya.

Kalau saya hanya melihat:

“Rp30 ribu setahun? Kecil banget.”

saya mungkin akan mengabaikannya.

Tetapi kalau saya mulai:

Rp1 juta → Rp2 juta → Rp5 juta → Rp10 juta

dan terus menambahkan uang secara rutin, maka nominal bunga juga ikut berkembang.

Jadi sekarang saya tidak lagi hanya bertanya:

“Bank mana yang memberikan bunga paling tinggi?”

Saya lebih suka bertanya:

“Bagaimana caranya supaya uang saya terus bertambah, sementara saya tetap bisa menggunakannya sesuai kebutuhan?”

Karena pada akhirnya, bank digital hanyalah tempat menyimpan dan mengelola uang. Yang paling menentukan tetap bagaimana kita mengatur uang tersebut.

🎁 Bonus: Kalau Mau Coba Bank Digital, Jangan Lupa Cek Referral

Satu hal yang sekarang juga saya perhatikan ketika membuka rekening digital baru adalah program referral.

Bukan berarti saya membuka rekening hanya karena bonus.

Tetapi kalau memang saya sudah berniat mencoba sebuah aplikasi dan kebetulan ada bonus referral, menurut saya sayang kalau dilewatkan.

Krom Bank

Krom saat ini memiliki program Ajak Teman. Informasi resminya menyebut bonus dapat mencapai Rp150.000 untuk pihak yang diajak maupun pengajak, dengan syarat saldo dan periode tertentu.

Kode referral: MELV5EMI

Bank Jago

Kode referral: MEL1F18E

Pastikan mengecek syarat dan promo yang tampil ketika melakukan pendaftaran.

SeaBank

Kode referral:  L3UUB5


Wednesday, September 16, 2026

Bank Digital Mana yang Bunga Tabungannya Menarik? Saya Coba Bandingkan Beberapa Pilihan

 

Saya awalnya cuma ingin mencari tempat untuk menyimpan uang. Tapi setelah melihat bunga, fitur, dan cara kerja masing-masing bank, ternyata pilihannya tidak sesederhana yang saya kira.



Saya mulai dari satu pertanyaan sederhana

Belakangan ini saya cukup sering melihat promosi bank digital.

Ada yang menawarkan bunga tabungan menarik. Ada yang punya deposito dengan bunga cukup tinggi. Ada juga yang menawarkan berbagai fitur untuk membantu mengatur uang.

Awalnya saya berpikir:

“Kalau sama-sama menyimpan uang, kenapa tidak pilih yang memberikan bunga paling tinggi?”

Ternyata setelah saya coba bandingkan, jawabannya tidak sesederhana itu.


Karena menurut saya, bunga bukan satu-satunya hal yang perlu dilihat.

Ada beberapa pertanyaan lain yang justru lebih penting:

  • Apakah uang bisa diambil kapan saja?
  • Ada biaya administrasi atau tidak?
  • Berapa minimal saldo?
  • Apakah bunganya berlaku untuk seluruh saldo?
  • Bagaimana dengan pajak bunga?
  • Apakah suku bunganya bisa berubah?
  • Dan yang tidak kalah penting, bagaimana dengan perlindungan LPS?

Dari sinilah saya mulai membandingkan beberapa pilihan bank digital.

1. Krom Bank — Menarik Kalau Fokusnya Mengejar Bunga



Kalau sebelumnya saya sudah membahas Krom secara khusus, kali ini saya memasukkannya sebagai salah satu pembanding.

Yang membuat Krom cukup menarik perhatian saya adalah tingkat bunga deposito yang relatif tinggi.

Namun, menurut saya ada satu hal yang harus diperhatikan.

Jangan hanya melihat angka bunga yang besar.

Kita tetap perlu melihat tenor, ketentuan pencairan, pajak, dan apakah bunga tersebut merupakan bunga reguler atau sedang dalam periode promo.

Buat orang yang memang memiliki dana yang belum akan digunakan dalam waktu dekat, deposito dengan bunga tinggi tentu menarik untuk diperhitungkan.

Tapi saya tidak akan langsung memindahkan semua uang ke deposito.

Kenapa?

Karena uang yang sudah masuk deposito memiliki tujuan yang berbeda dengan uang yang saya perlukan untuk kebutuhan sehari-hari.

Ada juga program Ajak Teman yang menurut saya cukup menarik bagi pengguna yang memang sudah menggunakan Krom.

🎁 Ada juga bonus referral Krom : MELV5EMI

Krom saat ini memiliki program referral atau Ajak Teman.

Caranya cukup sederhana. Pengguna Krom membagikan link atau kode referral kepada teman yang belum memiliki akun Krom.

Teman tersebut kemudian harus mendaftar menggunakan kode referral dan memenuhi ketentuan saldo yang ditetapkan.

Yang menarik, bonusnya tidak hanya satu nominal.

Berdasarkan ketentuan program Krom yang saya cek, teman yang diajak dapat memperoleh:

Rp50.000 jika memenuhi saldo minimum Rp300.000

atau

Rp150.000 jika memenuhi saldo minimum Rp2.000.000.

Saldo tersebut harus dipenuhi dalam periode pengisian yang ditentukan dan kemudian dipertahankan sesuai ketentuan program. Bonus juga baru diberikan setelah persyaratan terpenuhi.

Yang menarik bagi saya, pengajak juga bisa mendapatkan bonus dengan nominal yang sama jika referral berhasil memenuhi ketentuan.

Jadi secara sederhana:

Teman daftar → isi saldo → pertahankan saldo → teman mendapat bonus → saya juga berkesempatan mendapat bonus.

Tetapi tentu saja saya tidak menyarankan membuka rekening hanya karena bonus referral.

Kalau memang sedang mencari bank digital dengan produk yang sesuai kebutuhan, bonus referral bisa dianggap sebagai tambahan.

Kode referral Krom saya : MELV5EMI

Catatan: kode referral harus dimasukkan ketika proses pendaftaran. Program juga memiliki ketentuan mengenai sumber dana, saldo minimum, dan periode mempertahankan saldo.

2. Bank Jago — Menarik untuk yang Suka Mengatur Uang Berdasarkan Tujuan



Kalau Krom membuat saya tertarik dari sisi bunga deposito, Bank Jago justru menarik dari sisi cara mengatur uang.

Jago menggunakan konsep Kantong, sehingga uang bisa dipisahkan berdasarkan kebutuhan.

Misalnya saya membuat:

🏠 Kantong Rumah
🛒 Kantong Belanja
🚨 Dana Darurat
✈️ Dana Liburan
🎓 Dana Pendidikan

Menurut saya, konsep seperti ini cukup membantu.

Karena masalah menabung kadang bukan soal tidak punya uang.

Tetapi soal:

“Uang saya tercampur dengan uang untuk kebutuhan lain.”

Dengan memisahkan uang berdasarkan tujuan, saya merasa lebih mudah mengetahui mana uang yang boleh digunakan dan mana yang sebaiknya jangan disentuh.

Kebetulan ada promo referral Jago yang sedang saya gunakan

Nah, kalau Anda memang tertarik mencoba Jago, saya sekalian memasukkan informasi ini karena saya juga mempunyai kode referral Jago.

Kode referral saya: MEL1F18E

Program resmi Ajak Teman Jago yang berlaku saat ini berlangsung 1 Juli–31 Desember 2026. Pengguna baru yang mendaftar menggunakan kode referral dan memenuhi seluruh ketentuan bisa memperoleh bonus Rp50.000, dan pengajak juga bisa mendapatkan Rp50.000.

Tapi ada syaratnya.

Teman yang diajak perlu:

  1. Mendaftar Jago menggunakan kode referral.
  2. Mengisi saldo minimal Rp500.000 dalam satu transaksi.
  3. Pengisian saldo dilakukan maksimal 7 hari setelah akun aktif.
  4. Mempertahankan saldo tersebut selama 30 hari.
  5. Dana top-up harus berasal dari bank lain atau disebut sebagai fresh fund.

Jadi, jangan sampai hanya memasukkan kode referral lalu menganggap bonus otomatis masuk.

Ada beberapa tahapan yang memang harus dipenuhi.

Dan menurut saya, ini justru penting untuk ditulis secara terbuka supaya pembaca tidak salah memahami promo.

Kode referral Jago saya: MEL1F18E

Kalau memang sedang mencari bank digital untuk mulai memisahkan uang berdasarkan tujuan, Jago bisa menjadi salah satu pilihan yang layak dibandingkan.


3. SeaBank — Menarik untuk yang Mengutamakan Kesederhanaan



Pilihan lain yang saya masukkan adalah SeaBank.

Untuk deposito, yang menurut saya perlu diperhatikan bukan hanya angka bunganya, tetapi juga aturan pencairannya.

Misalnya, apabila deposito dicairkan sebelum jatuh tempo, konsekuensinya terhadap bunga perlu diperhatikan.

Ini mengingatkan saya pada satu hal:

Jangan hanya melihat tulisan “bunga 6%”.

Kita juga harus membaca bagaimana aturan pencairannya.

Karena kalau suatu saat dana tersebut ternyata dibutuhkan lebih cepat, kondisinya bisa berbeda dari yang kita bayangkan.

🎁 SeaBank juga punya program referral

Selain produk tabungan dan deposito, SeaBank juga dikenal memiliki program Undang Teman.

Dalam skema referral yang saya temukan, pengguna yang mengajak teman bisa mendapatkan bonus, sementara pengguna baru juga berkesempatan memperoleh bonus setelah memenuhi persyaratan tertentu. Informasi yang tersedia menunjukkan skema Rp25.000 untuk pengajak dan Rp10.000 untuk teman, dengan contoh persyaratan menabung minimal Rp50.000 dan mempertahankan saldo selama 3 hari.

Menurut saya, ini cukup menarik jika memang ada teman atau keluarga yang sedang ingin membuka rekening SeaBank.

Kode referral SeaBank saya : L3UUB5

Nah, untuk bagian ini jangan dulu kita isi dengan kode dari internet.

Karena kode referral SeaBank merupakan kode personal, sebaiknya kita menggunakan kode referral SeaBank milik Anda sendiri yang terlihat di aplikasi.

Format di artikel nanti:

🎁 Kode Referral SeaBank: L3UUB5

Kemudian tambahkan:

Catatan: Besaran bonus, periode promo, kuota, dan persyaratan dapat berubah. Sebelum mendaftar, cek kembali menu Undang Teman/Promo di aplikasi SeaBank.

Ini menurut saya jauh lebih aman daripada mengambil kode referral orang lain dari situs internet

4. Bank Saqu — Menarik untuk yang Suka Menabung Berdasarkan Target



Bank Saqu juga cukup menarik untuk dibandingkan.

Salah satu hal yang saya perhatikan adalah konsep pemisahan uang berdasarkan tujuan.

Misalnya:

    Saku Dana Darurat

    Saku Liburan

    Saku Renovasi Rumah

    Saku Pendidikan

Buat saya, konsep seperti ini cukup masuk akal.

Karena menabung Rp1 juta sebenarnya terasa berbeda ketika kita mengatakan:

“Saya punya tabungan Rp1 juta.”

dibanding:

“Rp500 ribu untuk dana darurat, Rp300 ribu untuk liburan, dan Rp200 ribu untuk kebutuhan lainnya.”

Secara nominal sama.

Tetapi secara psikologis, cara mengelolanya berbeda.


Jadi, mana yang paling menarik?

Setelah melihat beberapa pilihan, saya justru tidak ingin mengatakan:

“Bank A paling bagus.”

Karena kebutuhan setiap orang berbeda.

Kalau saya sederhanakan:

KebutuhanYang saya pertimbangkan

Mengejar bunga deposito    Krom

Mengatur uang berdasarkan tujuan    Jago / Bank Saqu

Menyimpan dana dengan akses digital sederhana    SeaBank

Memisahkan uang berdasarkan target    Jago / Bank Saqu

Dana yang belum akan digunakan    Pertimbangkan deposito

Dana kebutuhan sehari-hari    Tabungan yang mudah diakses

Ini bukan berarti satu bank pasti lebih baik daripada yang lain.

Justru menurut saya, yang lebih penting adalah mencocokkan produk dengan tujuan uang kita.


Tapi ada satu hal yang sering terlupakan

Misalnya saya mempunyai uang:

Rp10.000.000

Kemudian saya menemukan bank yang menawarkan bunga 8% p.a.

Sekilas terlihat menarik.

Tapi saya tidak boleh langsung berpikir:

“Wah, berarti dapat Rp800.000 setahun.”

Karena bunga biasanya masih perlu memperhitungkan pajak atas bunga, ketentuan produk, tenor, dan apakah suku bunga tersebut merupakan bunga normal atau bagian dari promo.

Sebagai contoh sederhana, jika Rp10 juta ditempatkan selama satu tahun dengan bunga bruto 8% p.a., bunga brutonya sekitar Rp800.000.

Jika dikenakan pajak bunga 20%, maka secara sederhana tersisa sekitar Rp640.000, sebelum memperhitungkan detail ketentuan produk.

Jadi, angka yang saya lihat di iklan belum tentu sama dengan uang yang akhirnya saya terima.

Saya akhirnya menggunakan cara sederhana ini

Daripada bertanya:

“Bank mana yang bunganya paling tinggi?”

saya lebih suka bertanya:

“Uang ini sebenarnya untuk apa?”

Kalau uang tersebut untuk kebutuhan sehari-hari, saya membutuhkan akses yang mudah.

Kalau untuk dana darurat, saya membutuhkan akses cepat tetapi tetap terpisah.

Kalau uangnya memang belum akan digunakan dalam beberapa bulan, saya bisa mulai mempertimbangkan deposito.

Sedangkan kalau tujuan saya adalah membangun kebiasaan menabung, fitur pemisahan berdasarkan tujuan justru bisa lebih penting daripada selisih bunga beberapa persen.

Kesimpulan saya

Setelah membandingkan beberapa bank digital, saya menyadari satu hal:

Bank dengan bunga paling tinggi belum tentu menjadi bank yang paling cocok untuk saya.

Saya justru mulai membagi uang berdasarkan fungsinya.

Uang untuk kebutuhan → harus mudah diakses.

Uang untuk dana darurat → harus aman dan tidak mudah terpakai.

Uang yang belum dibutuhkan → bisa dipertimbangkan untuk deposito.

Dan yang paling penting:

Jangan sampai kita mengejar bunga tinggi tetapi lupa kapan uang tersebut akan kita butuhkan.

Karena tujuan menabung sebenarnya bukan sekadar mendapatkan bunga.

Tujuannya adalah membuat uang yang kita punya bekerja untuk kehidupan kita, bukan malah membuat kita kesulitan ketika membutuhkan uang tersebut.

Artikel Terkait : 


Tuesday, September 15, 2026

Sebelum Ambil Pinjaman Online, Saya Selalu Cek 6 Hal Ini Agar Tidak Menyesal



"Jangan hanya berpikir bagaimana mendapatkan pinjaman. Pikirkan juga bagaimana mengembalikannya."

Ada satu hal yang sekarang cukup sering saya pikirkan sebelum mengambil pinjaman online.

Bukan lagi soal:

“Bisa pinjam berapa?”

Tetapi justru:

“Kalau saya mengambil pinjaman ini, apakah kondisi keuangan saya akan tetap aman setelahnya?”

Dulu, mungkin saya termasuk orang yang lebih fokus melihat nominal yang bisa didapat. Kalau limitnya besar, rasanya menarik. Kalau pengajuannya mudah, rasanya semakin yakin.

Tapi setelah dipikir-pikir, uang yang mudah didapat belum tentu mudah dikembalikan.

Karena itu, sebelum mengajukan pinjaman, saya mulai membiasakan diri untuk mengecek beberapa hal terlebih dahulu.

1. Saya cek dulu, sebenarnya uang ini untuk apa?



Ini mungkin terdengar sederhana.

Tapi menurut saya justru ini pertanyaan paling penting.

Kalau kebutuhan memang jelas dan mendesak, saya bisa mempertimbangkannya dengan lebih tenang.

Sebaliknya, kalau alasannya hanya karena ingin membeli sesuatu yang sebenarnya masih bisa ditunda, saya biasanya berpikir ulang.

Karena jangan sampai kita mengambil cicilan berbulan-bulan hanya untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya bisa menunggu.

Pinjaman sebaiknya punya tujuan yang jelas, bukan sekadar karena ada kesempatan untuk meminjam.

2. Saya tidak langsung tergoda dengan limit besar



Misalnya aplikasi memberikan limit Rp10 juta.

Apakah berarti kita harus mengambil Rp10 juta?

Menurut saya, tidak.

Limit adalah kemampuan fasilitas yang diberikan, bukan berarti jumlah tersebut harus digunakan seluruhnya.

Kalau kebutuhan saya hanya Rp2 juta, mengambil Rp10 juta justru bisa membuat kewajiban menjadi lebih besar.

Saya lebih suka menggunakan prinsip sederhana:

Pinjam sesuai kebutuhan, bukan sesuai limit.

Dengan begitu, cicilan yang harus dipikirkan setiap bulan juga lebih terkendali.

3. Saya hitung total yang harus dikembalikan


Ini bagian yang menurut saya jangan sampai dilewatkan.

Jangan hanya melihat:

“Cicilannya cuma Rp500 ribu per bulan.”

Tapi coba lihat sampai selesai.

Misalnya cicilan Rp500 ribu selama 6 bulan.

Berarti secara sederhana kita sudah mempunyai kewajiban sekitar:

Rp500.000 × 6 = Rp3.000.000

Belum lagi jika ada biaya lain sesuai ketentuan produk pinjaman.

Jadi, sebelum menekan tombol pengajuan, saya lebih suka melihat total kewajiban, bukan hanya angka cicilan bulanannya.

Karena angka kecil yang dibayar berkali-kali tetap bisa menjadi beban kalau tidak diperhitungkan.

4. Saya lihat kondisi keuangan setelah cicilan dibayar


Ini yang sering terlupakan.

Misalnya penghasilan kita Rp5 juta.

Kemudian setelah membayar cicilan, kebutuhan rumah tangga, transportasi, makan, listrik, internet, dan kebutuhan lainnya, ternyata uang yang tersisa sangat sedikit.

Nah, di sinilah saya mulai berpikir:

“Kalau bulan depan ada kebutuhan mendadak, saya punya uang dari mana?”

Menurut saya, kemampuan membayar bukan hanya soal bisa membayar cicilan bulan ini, tetapi juga apakah kita masih mempunyai ruang untuk menghadapi kebutuhan tak terduga.


5. Saya baca syarat dan ketentuannya


Saya tahu bagian ini sering terasa membosankan.

Kadang kita lebih tertarik langsung melihat:

limit → tenor → cicilan → ajukan.

Padahal ada informasi penting yang perlu diperhatikan.

Misalnya mengenai:

  • biaya yang dikenakan,
  • jadwal pembayaran,
  • tenor,
  • konsekuensi keterlambatan,
  • dan ketentuan lainnya.

Saya sekarang lebih memilih meluangkan beberapa menit untuk membaca daripada baru mengetahui suatu ketentuan setelah pinjaman berjalan.

Lebih baik repot di awal daripada bingung di kemudian hari.

6. Terakhir, saya bertanya pada diri sendiri: “Saya benar-benar mampu?”


Ini pertanyaan yang paling jujur.

Bukan:

“Bisa dapat pinjaman atau tidak?”

Tetapi:

“Saya mampu mengembalikannya dengan tenang atau tidak?”

Karena persetujuan pinjaman sebenarnya bukan akhir dari proses.

Justru setelah uang diterima, tanggung jawab baru dimulai.

Kalau cicilan masih bisa dibayar dengan kondisi keuangan yang sehat, tentu lebih tenang.

Tetapi kalau sejak awal kita sudah merasa khawatir bagaimana membayar cicilan bulan berikutnya, mungkin keputusan untuk meminjam perlu dipikirkan kembali.


Kesimpulan

Setelah beberapa kali membahas soal pinjaman online, saya semakin sadar bahwa pinjaman bukan sekadar tentang mendapatkan uang dengan cepat.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita mengelolanya setelah uang tersebut diterima.

Sekarang saya lebih suka bertanya:

Untuk apa uangnya?
Berapa total yang harus dikembalikan?
Berapa cicilannya?
Apakah penghasilan saya cukup?
Apa saja ketentuannya?
Dan yang paling penting, apakah saya benar-benar mampu membayarnya?

Karena menurut saya, keputusan finansial yang baik bukan yang membuat kita mendapatkan uang paling banyak, tetapi yang membuat kita tetap bisa menjalani kehidupan dengan tenang setelahnya.

"Jangan hanya berpikir bagaimana mendapatkan pinjaman.
Pikirkan juga bagaimana mengembalikannya."