Friday, May 9, 2014

GP2 : Free Practice 1 GP Catalunya Palmer ke 1, Rio Haryanto ke 8

Gederang balapan GP2 Series kembali berlanjut setelah hampir sebulan lamanya sejak seri pertama disirkuit sakhir dibulan April lalu beristirahat. Tepatnya tanggal 09 Mei seri ke 2 kedua GP2 series kembali dimulai. Balapan setingkat dibawah F1 kembali bergulir di sirkuit Catalunya Spanyol.

Pada Free Practice pertama ini sepertinya Dams sangat berjaya bagaimana tidak kedua pembalapnya berada di Top Three dengan menempatkan Jolyon Palmer diposisi pertama dengan catatan waktu 1.30, 448 detik. Sedangkan rekan setimnya Stephane Richelmi berada di posisi ke 3 hanya kalah sepersekian detik dari pembalap Carlin, Felipe Nasr yang berada ke diposisi ke 2.

Bagaimana dengan Rio? Rio Haryanto pada PF  ini berada diposisi ke 8 terpaut 1, 062 detik dari Palmer. Dengan catatan waktu 1.31, 510 detik. Semoga saja pada saat kualifikasi nanti rio dapat memperbaiki posisinya. Sehingga pada balapan besok Rio Haryanto dapat memperoleh poin pertamanya di musim ini. Amin

Berikut posisi pembalap berserta catatan waktunya (Sumber www.autosport.com)

Thursday, May 8, 2014

Titrasi Potensiometri

Titrasi Potensiometri
                           Pada dasarnya semua titrasi (baik titrasi asam basa), titrasi kompleksometri, titrasi pengendapan, dan titrasi redoks) dapat diikuti secara potensiometri dengan bantuan elektroda indikator dan elektroda pembanding. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh dengan menghubungkan antara potensial terhadap volume titran yang ditambahkan akan mempunyai kenaikan yang tajam disekitar titik ekivalen, sehingga dari grafik ini dapat diperkirakan titik akhir titrasi.
                           Cara potensiometri sangat berguna ketika :
a.      Tidak ada indikator yang sesuai untuk menentukan titik akhir titrasi (misalkan ketika sampel yang akan dititrasi keruh atau berwarna)
b.      Daerah titik ekivalen sangat pendek sehingga tidak ada indikator yang cocok
              Harga potensial yang diperoleh dapat diubah sedemikian rupa sehingga dapat disajikan dalam nilai pH, pM atau pE. Kurva titrasi yang diperoleh dalam percobaan seringkali serupa dengan kurva teoritis.
              Untuk titrasi redoks, biasanya digunakan elektroda platina sebagai elektroda indikator dan elektroda kalomel jenuh (EKI) sebagai elektroda pembanding. Pada titrasi pengendapan, elektroda perak sering digunakan sebagai elektroda indikator. Sebagai contoh, ion-ion klorida, bromida, iodida, sianida, tiosianat, sulfida, dan senyawa-senyawa organik yang mempunyai gugus sufihidril dapat dititrasi dengan larutan baku AgNO3 dengan memakai elektroda perak sebagai elektroda indikatorperak digunakan sebagai elektroda indikator, maka elektroda pembandingnya harus dipilih
              Jika elektroda perak digunakan sebagai elektroda indikator, maka elektroda pembandingnya harus dipilih elektroda yang cocok, karena jika elektroda kalomel jenuh (EKJ) dipakai sebagai elektroda pembanding, maka elektroda ini bisa menimbulkan kesalahan yang cukup besar karena jembatan garamnya mengandung larutan KCl jenuh. Ion-ion klorida yang merembes melalui jembatan garam itu bisa tertitrasi bersama-sama dengan ion-ion lain yang akan ditentukan, sehingga terjadi kesalahan positif. Untuk mengatasi hal ini maka EKJ harus disambung dengan jembatan garam kedua (misalnya KNO3), atau lebih baik digunakan elektroda pembanding Hg/HgSO4
             
Penentuan Titik Kesetaraan Titrasi Potensiometri dengan Cara Diferensial
               Penentuan titik ekivalen titrasi potensiometri dengan cara diferensial dilakukan dengan merajah kurva titrasi turunan pertama dan atau turunan kedua yang disebut kurva diferensial. Kurva diferensial pertama dibuat dengan menghitung kenaikan pH per satuan kenaikan volume titran (pH/V) atau (E/V), kemudian perbandingan pH/V atau (E/V) disajikan dalam bentuk grafik sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan. Sementara itu kurva diferensial kedua dibuat dengan cara merajah (2pH/V2) atau 2E/V2), kemudian perbandingan 2pH/V2 atau (E2/V2) disajikan dalam bentuk grafik sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan  

Kurva turunan pertama memberikan maksimum pada titik infleksi kurva titrasi yang juga merupakan titik akhir, sedangkan kurva turunan kedua (E2/V2) adalah nol pada titik yang mana lereng E/V adalah maksimum

Saturday, May 3, 2014

Potensiometri


Dasar Pemeriksaan dengan Potensiometri
Potensiometri merupakan salah satu cara pemeriksaan fisiko-kimia yang menggunakan peralatan listrik untuk mengukur potensial elektroda indikator. Besarnya potensial elektroda indikator ini tergantung pada konsentrasi ion-ion tertentu dalam larutan. Oleh karena itu, dengan menggunakan persamaan Nersnt maka konsentrasi ion dalam larutan dapat dihitung secara langsung dari harga potensial yang diukur.
Potensial elektroda indikator ini tidak dapat dihitung secara sendirian, akan tetapi harus menggabungkan elektroda-elektroda indikator dengan elektroda pembanding (elektroda referens) yang mempunyai harga potensial yang tetap selama pengukuran. Harga potensial elektroda ini ditetapkan sebesar nol pada kedaan baku yakni pada konsentrasi [H+] = 1 M, tekanan gas H2 = 1 atm dan suhu 250C, sementara gaya gerak listrik atau elektro motive force diukur dengan bantuan potensiometer yang sesuai, yang biasanya dipakai dengan peralatan elektronik (voltmeter bertransitor).

Gaya Gerak Listrik
Sel kimia (sel galvanik) merupakan suatu sistem yang mana energi kimia diubah menjadi energi listrik. Pada reaksi oksidasi reduksi, terlibat dua pasangan reaksi paro yaitu pasangan oksidasi dan reduksi. Kedua reaksi paro dari suatu reaksi oksidasi umumnya dapat ditulis sebagai berikut :
   Red Oks + ne
Yang mana Red menunjukkan bentuk tereduksi (disebut juga reduktor atau zat pereduksi), Oks adalah bentuk teroksidasi (oksidator atau zat pengoksidasi), n adalah jumlah elektron yang ditransfer dan e adalah elektron
Dengan memisahkan reaksi paro oksidasi (yang manaterbentuk elektron) dari reaksi paro reduksi9yang mana elektron dipakai), dan kemudian menghubungkan keduanya denngan konduktor (Pt), maka terjadilah aliran arus listrik yang disebabkan oleh adanya “gaya gerak listrik” atau elektro motive force. Gaya gerak listrik dihasilkan oleh terjadinya reaksi kimia, yakni reaksin oksidasi dan reaksi reduksi.

Persamaan Nersnt
Potensial sel galvanik tergantung pada aktivitas berbagai spesies yang enjalanireaksi didalasel. Persamaan  Nersnt ini sangat penting karena persamaan ini menentukan potensial elektroda suatu fungsi konsentrasi bentuk teroksidasi dan tereduksinya
   Ecell = Eind – Eref + Ej
   Persamaan Nernst: Eº = 0,0591/n log K
   Keterangan:
   Ecell : Potensial sel
   Eind : Potensial elektroda indikator
   Eref       : Potensial elektroda acuan
   Ej          : Potensial sambungan cair (liquid junction potential)

Elektroda Indikator
               Elektroda indikator merupakan bagian penting dari peralatan potensiometri, karenanya elektroda indikator harus memenuhi berbagai persyaratan yang salah satunya adalah bahwa responnya terhadap bentuk teroksidasi dan bentuk tereduksi harus sedekat mungkin dengan persamaan Nersnt
               Elektroda indikator untuk pengukuran potensiometri terdiri atas tiga jenis, yaitu :
a.      Elektroda ion logam-logam
         Salah satu elektroda indikator yang menempuh persyaratan adalah elektroda logam perak. Reaksi elektroda ini adalah sebagai berikut :
         Ag+ + e Ag
b.      Elektroda lembam (inert)
         Suatu logam inert, biasanya  platina juga bekerja dengan baik sebagai elektroda indikator untuk berbagai pasangan elektroda indikator untuk berbagai pasangan redoks seperti :
         Fe3+ + e Fe2+
         Fungsi logam semata-mata untuk membangitkan kecenderungan sistem tersebut dalam mengambil atau melepaskan elektron, sementara logam itu sendiri tidak ikut secara nyata dalam redoks. Inert merupakan ukuran relatif karena platina tidak resisten terhadap serangan oksidator-oksidator kuat terutama dalam larutan yang mana suatu kompleksasi bisa menstabilkan Pt(III) melalui pembentukan spesies seperti PtBr42-. Platina kadang-kadang juga menimbulkan masalah dengan reduktor yang sangat kuat
c.       Elektroda indikator selektif ion
         Elektroda ini biasanya hanya peka terhadap salah satu ion saja sehingga elektroda ini disebut dengan elektroda selektif ion atau elektroda khas ion. Salah satu jenis elektroda ini yang penting untuk pemeriksaan kimia adalah indikator gelas yang mempunyai tanggapan yang bolak-balik terhadap ion hidrogen sehingga sering digunakan untuk pengukuran PH.

          Elektroda pembanding
               Dalam kaitannya dengan elektroda pembanding ini, akan  diuraikan beberapa elektroda yang dapat digunakan sebagai elektroda pembanding, yakni : elektroda hidrogen baku, elektroda kalomel dan elektroda perak-perak klorida
a.      Elektroda hidrogen baku
         Eektroda hidrogen baku (EHB) yang disebut juga dengan elektroda hidrogen normal (EHN) telah diterima secara internasional sebagai baku untuk membandingkan potensial elektroda lainnya. Potensial elektroda hidrogen baku ditetapkan sebesar 0,000 V. Susunan EHB yang terdiri atas elektroda platina yang dilapisi dengan serbuk platina yang sangat halus (platina hitam, Pt black) yang dicelupkan ke dalam larutan ion hidrogen 1 M. Platina hitam ini berfungsi untuk memperluas permukaan elektroda untuk mempertahankan agar reaksi yang terjadi pada elektroda, yakni:
         2H+ + 2e H2 berlangsung secara cepat dan setimbang
         Aliran gas H2 berperan untuk mempertahankan agar larutan di sekitar elektroda tetap jenuh dengan gas H2 pada tekanan 760 mmHg atau 1 atm
b.      Elektroda kalomel
         Pada dasarnya, elektroda hidrogen baku merupakan elektroda pembanding yang utama karena harga potensial elektroda ini di anggap nol. Akan tetapi, elektroda ini banyak mempunyai kelemahan yang menyebabkan tidak mudah dipakai dalam pemeriksaan kimia yang sesungguhnya.
         Kelemahan itu antara lain : potensial elektrodanya mudah diganggu oleh beberapa senyawa lain misalnya senyawa-senyawa reduktor, oksidator, koloid, ion sulfida, dan sebagainya, diperlukan gas hidrogen yang sangat murni (bebas dari oksigen), dan sulit dipertahankan dalam keadaan baku. Oleh karena itu, elektroda hidrogen baku ini biasanya digunakan untuk pemeriksaan yang sangat teliti
         Karena alasan inilah maka elektroda pembanding kalomel jenuh digunakan secara luas di laboratorium yang disebabkan oleh kekompakan dan kemudahan penggunaannya.
c.       Elektroda perak-perak klorida
         Elektroda ini mungkin suatu elektroda indikator yang digunakan secara luas untuk pemeriksaan kimia setelah elektroda kalomel jenuh. Elektroda ini terdiri atas kawat perak atau kawat platina yang dilapisi perak yang disalut secara elektrolisis dengan lapisan tipis perak klorida. Kawat ini tercelup ke dalam larutan kalium klorida yang konsentrasinya diketahui.

Penentuan pH secara Potensiometri
               Pengukuran pH secara elektrik mungkin merupakan pengukuran fisika yang paling sering digunakan di laboratorium kimia (selain penetuan berat dengan timbangan). Pengukuran ini mungkin disebabkan oleh  nilai-nilai emf tertentu berbagai macam sel kimia yang menggunakan konsentrasi larutan ion hidrogen dalam sel. Hal ini berarti bahwa jika variabel-variabel lain dalam sel dikendalikan, maka nilai emf sel dapat dihubungkan dengan pH dan hubungan ini merupakan dasar pengukuran pH secara potensiometri. 

Friday, May 2, 2014

Macam-Macam Kontrasepsi

Seperti kita tahu, ada begitu banyak alat kontrasepsi. Secara garis besar, kontrasepsi itu dibagi dalam tiga bagian besar. Yaitu kontrasepsi mekanik, hormonal, dan kontrasepsi mantap.

A. KONTRASEPSI MEKANIK

Dinamakan mekanik karena sifatnya sebagai pelindung. Maksudnya, kontrasepsi ini mencegah bertemunya sperma dan sel telur dalam rahim. Nah, ada beberapa kontrasepsi yang termasuk dalam golongan mekanik ini, yaitu kondom dan diafragma.

1. Kondom
Dulu kondom terbuat dari kulit atau usus binatang. Setiap akan digunakan direndam dulu. Kemudian terbuat dari linen. Kini kondom terbuat dari bahan karet yang tipis dan elastis. Bentuknya seperti kantong.

Fungsi kondom sebenarnya untuk menampung sperma sehingga tidak masuk ke dalam vagina. Perlindungan tersebut efektif 90 persen. Terlebih jika dipakai bersama dengan spermisida (pembunuh sperma). “Rata-rata, dari 100 pasangan dalam setahun, sekitar 4 wanita yang hamil,” ujar Andon.

Kondom harganya murah, mudah didapat, tidak perlu resep dokter, tidak perlu pengawasan dan juga bisa mencegah penularan penyakit kelamin. Tapi tidak selalu cocok terutama jika pemakai alergi terhadap bahan karet. Dan mungkin saja terjadi kebocoran, karena bahannya yang sangat tipis.

2. Diafragma
Kontrasepsi wanita yang mirip kondom. Bentuknya seperti topi yang menutupi mulut rahim. Terbuat dari bahan karet dan agak tebal. Kontrasepsi ini dimasukkan ke dalam vagina, semacam sekat yang dapat mencegah masuknya sperma ke dalam rahim.

Diafragma digunakan jika akan berhubungan seksual. Setelah itu bisa dilepas lagi atau tetap pada tempatnya. Karena bahannya lebih tebal dari kondom, kontrasepsi ini tidak mungkin bocor.

3. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
Alat Kontrasepsi dalam Rahim/AKDR/IUD lebih dikenal dengan nama spiral. Berbentuk alat kecil dan banyak macamnya. Ada yang terbuat dari plastik seperti bentuk huruf S (Lippes Loop). Ada pula yang terbuat dari logam
tembaga berbentuk seperti angka tujuh (Copper Seven) dan mirip huruf T (Copper T). Selain itu, ada berbentuk sepatu kuda (Multiload). “Yang paling terkenal *Copper T* dan *Multiload*. Kontrasepsi tersebut jadi pilihan karena kenyamanannya. Modifikasi terbaru *Copper T*, yaitu *Nova T*memiliki keunggulan lebih lembut,” jelas Andon. Alat kontrasepsi ini dimasukkan ke dalam rahim oleh dokter dengan bantuan alat. Benda asing dalam rahim ini akan menimbulkan reaksi yang dapat mencegah bersarangnya sel telur yang telah dibuahi di dalam rahim. Alat ini bisa bertahan dalam rahim selama 2-5 tahun, tergantung jenisnya dan dapat dibuka sebelum waktunya jika Anda ingin hamil lagi.

Sebagai pemakai, Anda bisa memeriksa sendiri keberadaan alat tersebut. Caranya dengan meraba benang alat kontrasepsi tersebut di mulut rahim. Seandainya Anda sudah melakukan pemasangan kontrasepsi ini, jangan lupa melakukan pemeriksaan ulang. Apakah itu 2 minggu sekali, 1-2 bulan sekali, atau setiap enam bulan sampai satu tahun setelah pemasangan. Pemakaian kontrasepsi tanpa bahan aktif Copper dapat terus berlangsung sampai menjelang menopause. Sedangkan kontrasepsi dengan bahan aktif Copper, 3-4tahun harus diganti.

Yang perlu diingat kontrasepsi ini bukanlah alat yang sempurna. Masih ada kekurangannya. Misalnya, kehamilan bisa tetap terjadi, perdarahan, atau infeksi. Mungkin akibat benang dari alat tersebut dapat merangsang mulut rahim sehingga menimbulkan perlukaan dan menganggu dalam hubungan seksual. Pemakaian AKDR juga membuat kita lebih mudah keputihan. Karena itu sebaiknya kontrasepsi ini tidak digunakan jika terdapat infeksi genetalia atau perdarahan yang tidak jelas. Keuntungannya, alat ini bisa dipakai untuk jangka panjang. Bahkan sama sekali tidak menganggu produksi ASI, jika ibu sedang menyusui. “Efektifitas pemakaian kontrasepsi dalam rahim ini, dari seribu pasangan, sekitar 5 wanita dalam setahun akan hamil,” ujar Andon.

5. Spermisida
Kontrasepsi ini merupakan senyawa kimia yang dapat melumpuhkan sampai membunuh sperma. Bentuknya bisa busa, jeli, krim, tablet vagina, tablet, atau aerosol. Sebelum melakukan hubungan seksual, alat ini dimasukkan ke dalam vagina. Setelah kira-kira 5-10 menit hubungan seksual dapat dilakukan. Penggunaan spermisida ini kurang efektif bila tidak dikombinasi dengan alat lain, seperti kondom atau diafragma. “Dari 100 pasangan dalam setahun, ada 3 wanita yang hamil. Tapi karena sering salah dalam pemakaiannya, bisa terjadi sampai 30 kehamilan,” jelas Andon.

Diakuinya, banyak wanita merasa tak nyaman menggunakan spermasida. “Keluhannya, tidak enak dan timbul alergi,” ujar Andon kemudian. Selain itu, pemakaiannya agak merepotkan menjelang hubungan senggama. Pasangan pun sulit mencapai kepuasan.

B. KONTRASEPSI HORMONAL

Kontrasepsi ini menggunakan hormon, dari progesteron sampai kombinasi estrogen dan progesteron. Penggunaan kontrasepsi ini dilakukan dalam bentuk pil, suntikan, atau susuk.

Pada prinsipnya, mekanisme kerja hormon progesteron adalah mencegah pengeluaran sel telur dari indung telur, mengentalkan cairan di leher rahim sehingga sulit ditembus sperma, membuat lapisan dalam rahim menjadi tipis dan tidak layak untuk tumbuhnya hasil konsepsi, saluran telur jalannya jadi lambat sehingga mengganggu saat bertemunya sperma dan sel telur.

1. Pil atau Tablet
Pil bertujuan meningkatkan efektifitas, mengurangi efek samping, dan meminimalkan keluhan. Sebagian besar wanita dapat menerima kontrasepsi ini tanpa kesulitan. Di Indonesia, jenis ini menduduki jumlah kedua terbanyak dipakai setelah suntikan. Pil ini tersedia dalam berbagai variasi. Ada yang
hanya mengandung hormon progesteron saja, ada pula kombinasi antara hormon progesteron dan estrogen.

Cara menggunakannya, diminum setiap hari secara teratur. Ada dua cara meminumnya yaitu sistem 28 dan sistem 22/21. Untuk sistem 28, pil diminum terus tanpa pernah berhenti (21 tablet pil kombinasi dan 7 tablet plasebo). Sedangkan sistem 22/21, minum pil terus-menerus, kemudian dihentikan selama 7-8 hari untuk mendapat kesempatan menstruasi. Jadi, dibuat dengan pola pengaturan haid (sekuensial).

Pada setiap pil terdapat perbandingan kekuatan estrogenik atau progesterogenik, melalui penilaian pola menstruasi. Wanita yang menstruasi kurang dari 4 hari memerlukan pil KB dengan efek estrogen tinggi. Sedangkan wanita dengan haid lebih dari 6 hari memerlukan pil dengan efek estrogen
rendah.

Sifat khas kontrasepsi hormonal yang berkomponen estrogen menyebabkan mudah tersinggung, tegang, berat badan bertambah, menimbulkan nyeri kepala, perdarahan banyak saat menstruasi, Sedangkan yang berkomponen progesteron
menyebabkan payudara tegang, menstruasi berkurang, kaki dan tangan sering kram, liang senggama kering.

Penggunaan pil secara teratur dan dalam waktu panjang dapat menekan fungsi ovarium. Kerugian lainnya, mungkin berat badan bertambah, juga rasa mual sampai muntah, pusing, mudah lupa, dan ada bercak di kulit wajah seperti vlek hitam. Juga dapat mempengaruhi fungsi hati dan ginjal. Kecuali itu, kandungan hormon estrogen dapat mengganggu produksi ASI.

Keuntungannya, pil ini dapat meningkatkan libido, sekaligus untuk pengobatan penyakit endometriosis. Haid menjadi teratur, mengurangi nyeri haid, dan mengatur keluarnya darah haid.

Efektifitas penggunaan pil ini 95-98 persen. Jadi, ada sekitar 7 wanita yang hamil dari 1.000 pasangan dalam setahun.

2. Suntikan
Kontrasepsi suntikan mengandung hormon sintetik. Penyuntikan ini dilakukan 2-3 kali dalam sebulan. Suntikan setiap 3 bulan *(Depoprovera)*, setiap 10 minggu *(Norigest)*, dan setiap bulan *(Cyclofem)*.

Salah satu keuntungan suntikan adalah tidak mengganggu produksi ASI. Pemakaian hormon ini juga bisa mengurangi rasa nyeri dan darah haid yang keluar.

Sayangnya, bisa membuat badan jadi gemuk karena nafsu makan meningkat. Kemudian lapisan dari lendir rahim menjadi tipis sehingga haid sedikit, bercak atau tidak haid sama sekali. Perdarahan tidak menentu. Tingkat kegagalannya hanya 3-5 wanita hamil dari setiap 1.000 pasangan dalam setahun.

3. Susuk
Disebut alat kontrasepsi bawah kulit, karena dipasang di bawah kulit pada lengan kiri atas. Bentuknya semacam tabung-tabung kecil atau pembungkus silastik (plastik berongga) dan ukurannya sebesar batang korek api. Susuk
dipasang seperti kipas dengan enam buah kapsul. Kini sedang diuji coba susuk satu kapsul*implanon)*. Di dalamnya berisi zat aktif berupa hormon atau Levonorgestrel. Susuk tersebut akan mengeluarkan hormon tersebut sedikit demi sedikit. Jadi, konsep kerjanya menghalangi terjadinya ovulasi dan
menghalangi migrasi sperma.

Pemakaian susuk dapat diganti setiap 5 tahun *(Norplant)* dan 3 tahun *(Implanon)*. Sekarang ada pula yang diganti setiap tahun. Penggunaan kontrasepsi ini biayanya ringan. Pencabutan bisa dilakukan sebelum waktunya jika memang ingin hamil lagi. Efektifitasnya, dari 10.000 pasangan, ada 4
wanita yang hamil dalam setahun.

Efek sampingnya berupa gangguan menstruasi, haid tidak teratur, bercak atau tidak haid sama sekali. Kecuali itu bisa menyebabkan kegemukan, ketegangan payudara, dan liang senggama terasa kering. Kendala lainnya dalam pencabutan.


susuk yaitu sulit dikeluarkan karena mungkin waktu pemasangannya terlalu dalam. Hal tersebut dapat menimbulkan infeksi.

Artikel terkait :

Kontrasepsi


          Kontrasepsi adalah metode untuk mencegah terjadinya kehamilan. Berdasarkan penelitian, terdapat 3.6 juta kehamilan tidak direncanakan setiap tahunnya di Amerika Serikat, separuh dari kehamilan yang tidak direncanakan ini terjadi karena pasangan tersebut tidak menggunakan alat pencegah kehamilan, dan setengahnya lagi menggunakan alat kontrasepsi tetapi tidak benar cara penggunaannya.

         Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang di dalam rahim dengan memakai alat atau obat-obatan.  Kontrasepsi dapat reversibel (spacing)  atau permanen (kontrasepsi tetap-kontap). Kontrasepsi yang reversibel adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat tanpa efek lama di dalam mengembalikan kesuburan atau kemampuan untuk punya anak lagi. Metode kontrasepsi permanen atau yang kita sebut sterilisasi adalah metode kontrasepsi yang tidak dapat mengembalikan kesuburan dikarenakan melibatkan tindakan operasi.

    Metode kontrasepsi juga dapat digolongkan berdasarkan cara kerjanya yaitu metode barrier (penghalang), sebagai contoh, kondom yang menghalangi sperma; metode mekanik seperti IUD; metode hormonal  seperti pil, dan metode operatif seperti tubektomi dan vasektomi. Metodekontrasepsi alami tidak memakai alat-alat bantu maupun hormonal namun berdasarkan fisiologis seorang wanita dengan tujuan untuk mencegah fertilisasi (pembuahan).

          Faktor yang mempengaruhi pemilihan kontrasepsi adalah efektivitas, keamanan, frekuensi pemakaian dan efek samping, serta kemauan dan kemampuan untuk melakukan kontrasepsi secara teratur dan benar. Selain hal tersebut, pertimbangan kontrasepsi juga didasarkan atas biaya serta peran dari agama dan kultur budaya mengenai kontrasepsi tersebut. Faktor lainnya adalah frekuensi bersenggama, kemudahan untuk kembali hamil lagi, efek samping ke laktasi, dan efek dari kontrasepsi tersebut di masa depan. Sayangnya, tidak ada metode kontrasepsi, kecuali abstinensia (tidak berhubungan seksual), yang efektif mencegah kehamilan 100%.  

     Syarat-syarat kontrasepsi yang sebaiknya dipenuhi adalah :
1.      Kontrasepsi tersebut aman digunakan
2.      Tidak memiliki efek samping yang berbahaya
3.      Tidak mengganggu hubungan seksual
4.      Mudah penggunaannya dan murah biayanya
5.      Tidak memerlukan pengawasan khusus ketika digunakan
6.      Dapat ditentukan lama kerjanya

Artikel Terkait :

Macam-macam kontrasepsi

Salep (Unguentum

         Definisi Salep :
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam empat kelompok yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon, dasar salep serap, dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan dasar salep larut dalam air. Salep obat menggunakan salah satu dari dasar salep tersebut (FI IV, hal. 18).
  Cara pembuatan Salep :
  1. Pelelehan
Pelelehan (Fusi) merupakan metode yang biasanya digunakan untuk produksi salep skala besar dimana malam (wax) atau padatan dengan titik leleh yang tinggi dicampurkan dengan semi-solid atau minyak; cara ini juga digunakan apabila akan dilakukan pencampuran air dalam volume yang cukup besar. Komponen campuran akan meleleh dengan baik pada penurunan titik leleh dan campuran fluid tersebut diaduk hingga dingin, untuk menghindari aerasi. Jika tidak diaduk dengan efektif, maka lemak alkohol dan asam mungkin akan mengkristal pada sistem yang mengandung parafin. Serbuk yang tidak larut biasanya akan terpisah saat salep mulai mengental/membeku. Padatan yang bisa terlarut dan tahan panas dapat dilarutkan pada basis yang dilelehkan sebelum campuran tersebut membeku.
)Untuk kuantitas kurang dari 500 g, penanganan lebih jauh terhadap sediaan salep untuk meningkatkan homogenitas mungkin tidak begitu diperlukan, tetapi untuk jumlah yang lebih besar, roller mills atau colloid mills dapat menambahkan keseragaman distribusi dari padatan yang tidak larut dan eliminasi partikel dengan ukuran lebih besar dari 50 µm.